Kisah Cinta Vampire

Ini kisah tentang bagaimana sesosok vampire yang akhirnya jatuh cinta pada sesosok zombie.

Mereka tidak dalam satu spesies. Sebagai makhluk yang hanya hadir pada kisah-kisah fiksi, cerita ini bukanlah fiksi belaka. Diceritakan berdasarkan pengalaman yang secara sukarela dibagi. Tanpa intensi apa-apa, cerita ini dikisahkan agar bisa menjadi abadi untuk dikenang: sebagaimana vampire yang konon hidup selamanya; sebagaimana zombie yang hidup setelah mati.

Continue reading

#poem Cakrawala Cinta

Tahukah kau…
Ada cinta pada pandangan pertama
Jangankan nama, wajahmu saja baru kulihat
Tapi hati memang tak bisa dusta.
Jika  jatuh, akan kentara sekali.

Bergandengan tangan tak bisa kuungkap
Bagaimana kugenggam jemarimu
Laksana sutra, lembutnya..
Hangat terasa menjalar ke sekujur tubuh.
Ingin rasanya kudekap kamu, duhai cinta

Memang, semua berawal dari pandangan pertama.

Tibalah akhirnya waktu yang dengan sabar kunanti…
Bibir merah jambu yang menggoda itu
Sudah waktunya untuk kukecup
Walau sekejap mata pastilah manis terasa
Kuraih pipi tirusmu kutangkup
Hembus nafasmu terasa membelai hidungku
Jantungku berdetak berkejaran
Kupejamkan mata membayangkan indah rupamu, duhai cinta..
Lalu mendaratlah bibir ini pada bibirmu.

Sungguh tanpa dilebih-lebihkan
Nyaman sekali membuatku tak ingin berhenti
Lembut dan manis,
Siapa yg bisa menahan diri
Untuk tak melumatnya?
Ditambah kau hanya diam saja
Menikmati kasih dalam kecupku rupanya
Walau tak kau balas melumat bibirku,
Kau diam saja membiarkanku melumat bibirmu.
Nafasmu yg tadi teratur sudah memburu
Apalah artinya, duhai cinta?
Kau mabuk?
Ya, kukatakan saja bahwa ciuman memang mengandung candu.
Kecupan hanyalah awal saja…

Kau ingin lebih, cinta?
Apa yang kau mau?
Aku menjamah tubuhmu?
Bisa saja aku, cinta…
Tapi aku tak kuat…
Kalaupun kuat, tanggungjawabku nanti besar, sayang..

Janganlah dulu kita menjelajah terlalu jauh.
Bagiku cukuplah saja ciuman yang panjang ini.
Jalan kunang-kunang masih agak jauh,
Apalagi cakrawala itu, sayang..

14.11.2016
23:23

Saya Tidak Suka Menunggu

Saya tidak suka menunggu. Tapi jika saya pikir-pikir lagi … hidup ini adalah sebuah penantian, hanya saja karena sembari menunggu kita melakukan banyak hal maka hidup tidak terasa seperti menunggu. Ya, hidup ini memang sekali, tetapi masih ada kehidupan lain setelah kita mati.

Saya memang tidak suka menunggu, tapi mau tidak mau, saya ini sedang menunggu. Ada hal-hal yang saya ketahui yang saya tunggu, juga sebaliknya. Ketika saya tahu apa yang saya tunggu, maka saya tidak suka menunggu. Namun jika saya tidak sadar bahwa saya sedang menunggu, maka saya akan menunggu.

Saya punya mimpi, sama seperti orang kebanyakan. Tapi ada dari mereka yang tidak menunggu mimpi itu menjadi nyata melainkan mengejarnya. Sisanya, ya, menunggu waktu mengantarkan mereka ke depan kenyataan dari mimpi mereka. Saya mungkin termasuk dalam keduanya namun tidak pada satu waktu. Misal kali ini saya sedang mengejar mimpi, tapi bisa jadi esok atau lusa saya hanya menjadi seorang penunggu.

Dalam menunggu kita sudah sewajarnya mencari sesuatu untuk dikerjakan dan untuk membunuh waktu. Beragam sekali kegiatan yang orang-orang lakukan. Ya, seperti pada paragraf sebelumnya itu. Saya kadang merasa hilang arah ketika menunggu. Saya merasa demikian karena saya sedang tidak ingat saya sedang menunggu apa atau sedang mengejar apa. Dalam keadaan seperti itu, saya jadi seperti daun yang rontok dan jatuh pada sungai yang sedang mengalir; menunggu kapan akan berhenti -entah tersangkut di batu atau terdampar pada tepi sungai.

Saya masih tidak suka menunggu. Dari dulu hingga detik ini. Saya orangnya tidak sabaran, kalau ingin sesuatu mesti harus lekas terpenuhi, tapi memang ada saat-saat di mana saya harus belajar untuk sabar. Kata orang, hidup ini tentang bagaimana kita belajar untuk bersabar dan bersyukur. Itu benar. Sebagai manusia, bisa saya katakan bahwa semua dari kita kadang tiba lebih cepat atau lebih cepat pada batas dari kedua hal itu. Yang membedakan hanya cepat atau lambat saja. Pada dasarnya semua sama.

Jika dipikir ulang, banyak hal yang sedang saya tunggu saat ini. Dulu pun demikian, namun ketika penantian itu sudah selesai saya merasa ingin kembali ke masa sewaktu saya menunggu. Menunggu dengan penasaran. Kemudian, saya bertanya lagi pada diri saya: apakah benar bahwa saya tidak suka menunggu?

Benar adanya, bukan, ketika kita menanti sesuatu dengan penuh antusias, semuanya perlahan berubah ketika kita sudah tiba pada ujung sebuah penantian? Tidak ada lagi hal yang membuat penasaran, yang membuat jantung berdegup dua kali lebih cepat, yang membuat tidur jadi lebih membutuhkan usaha, yang membuat kita ingin cepat-cepat menyelesaikan penantian itu.

Jika saya pikir lagi, menunggu itu menyenangkan juga. Menunggu lelaki pujaan menjadi kekasih hati, menunggu hasil ujian yang kita tahu bahwa kita mampu meraih yang terbaik, menanti hari liburan tiba dan melakukan hal-hal menyenangkan, menunggu malam tiba untuk melihat taburan bintang ketika kemah, menunggu makanan jadi ketika sedang lapar, menunggu waktu pulang sekolah ketika sedang mengantuk, menunggu waktu berbuka puasa, menunggu hujan reda, menunggu waktu untuk bersua dengan orang yang dirindukan, menunggu ….

Hidup ini memang soal menunggu, sepertinya. Banyak hal yang sebenarnya, yang faktanya kita tunggu. Tapi kita tidak sadar sedang menunggu karena kita sedang melakukan hal lain juga pada saat yang bersamaan. Pada kasus ini, saya masih tidak suka menunggu, tapi pada saat yang bersamaan ternyata saya pun menikmati menunggu itu sendiri.

21.08.’15

At least, be honest to your self!

Ada seorang teman, dia selalu merasa tidak nyaman dalam hari-harinya, terutama hari-hari di mana dia sedang tidak sendiri. Ketika bersama teman-temannya, ia merasa seperti menjadi orang lain, dan melihat kepada teman-temannya, yang seolah begitu lepas mengekspresikan diri mereka, dia berpikir, “Tidak bisakah aku seperti mereka?”.

Saya memikirkan dia. Kenapa dia berpikir seperti itu?

Lalu dia datang lagi. Bercerita tentang hal lain. Katanya, ia (masih) sering merasa harus menjadi orang lain ketika bersama dengan orang yang berbeda-beda, kecuali satu orang, yaitu kekasihnya. Lalu saya tanyakan kenapa hal itu bisa seperti itu. Dia menjawab dengan sedikit sangsi, “Mungkin karena di depannya aku tidak perlu menjadi orang lain dan tidak punya rahasia untuk disembunyikan.”

Sampai pada jawabannya, saya mulai merasa tau di mana duduk perkaranya.

Dia terus bercerita lagi. Katanya dia ingin seperti anak-anak lain, seperti orang-orang lain, yang bisa terbuka, yang bisa bebas mengekspresikan diri di depan siapa saja, menunjukkan bagaimana karakter mereka, dan berbaur dengan siapa saja sebagai diri mereka. Entah kenapa, dia sulit sekali menjadi satu orang di berbagai situasi. Ada saja yang ia tak tunjukkan pada situasi tertentu. Ada saja yang ia tak bagi pada situasi tertentu. Ada saja bagian dari dirinya yang tak muncul bersamaan dengan bagian dirinya yang lain pada saat yang bersamaan.

Setelah itu, dia bertanya pada saya, “Menurutmu, seseorang yang begitu ekstrovert, apakah dia memiliki rahasia yang ia tak bagi pada orang lain?”

Belum sempat saya menjawab, dia bertanya lagi, “Menurutmu, seseorang yang introvert, apakah dia memang benar tertutup karena orang lain tidak tahu-menahu akan hal tentang dirinya, atau malah sebaliknya? Di balik tipenya yang introvert, justru orang lain akan dengan mudah membaca karakter dan bahkan rahasia yang disembunyikannya?”

Wah, dia bertanya pada saya seolah saya ini seorang pakar psikologi saja. Saya hanya menghelas nafas di jeda pertanyaannya yang terakhir, lalu menyahuti, “Kenapa kamu berfikir seperti itu?”

“Karena saya merasa hal-hal seperti itu mungkin saja terjadi. Bahkan terkadang, saya merasa sama sekali tidak tahu apa-apa tentang teman saya yang terlihat ekstrovert. Dan kadang hampir sebaliknya. Menurut saya, seseorang yang ekstrovert terlalu banyak mengekspos diri kepada orang lain, namun hal yang mereka ekspos adalah hal yang ‘secukupnya saja’. Berbeda dengan seseorang yang introvert. Terkadang saking introvertnya, mereka hanya membagi apa yang ada untuk dibagi, jadi mereka tidak punya terlalu banyak persediaan hal yang kurang penting, sehingga orang lain akan mudah menebak mereka. Menurutmu, bagaimana?” Dia menjelaskan.

Saya diam saja berusaha mencerna kata-katanya. Menurut saya ada benarnya, tapi saya bilang padanya, “Itu semua tergantung dari pribadi orang-orang yang bersangkutan. Kenapa kamu harus memusingkan hal itu? Kamu lupa bahwa kamu juga punya masalah lain?”

Dia tertegun. “Lalu, saran untuk masalah saya apa?”

Saya berdehem sebelum melanjutkan, “Cobalah untuk berlaku jujur pada siapa saja. Jika sekarang, dari ceritamu yang kemarin-kemarin, saya melihat kamu baru jujur pada kekasihmu saja. Kenapa?”

“Karena saya merasa nyaman saja menjadi diri saya di hadapannya.”

“Lantas, tidak bisakah kamu berlaku demikian di depan teman-temanmu yang lain?”

Dia menggeleng.

“Kenapa?”

“Entah, mungkin karena saya tidak merasa bisa mempercayai mereka begitu saja.”

“Lalu, apakah kamu menjadi dirimu sendiri di hadapan dirimu? Pada saat kamu sedang sendiri, apakah kamu sudah berlaku jujur, setidaknya pada dirimu sendiri?”

Dia terdiam cukup lama.

Akhirnya dia menggeleng pelan, “Saya rasa belum. Bahkan pada diri saya sendiri saya kadang merasa ragu apakah saya bisa atau tidak.”

“Nah, di situ. Menurut saya, setidaknya kamu harus bisa jujur pada dirimu sendiri. Bukankah semua dimulai dari diri kita sendiri?”

in case of love

In case of love, it is hard to find the new one who is similar with the former.

Nothing’s one as same as other’s so close.

In case of love, moving on is kind the hardest thing to do, especially first love. There will always be memory that comes never considering time and place. Suddenly just like a heart attack.

In case of love ¬†…

You will always remember the one who makes your heart beats twice faster than usual.

You will always remember the one who hurts you the most.

You will always remember the one whose you think of before you fall asleep.

You will never be able to expect to whom you fall in love with.

You will never know the one who might hurt you.

You will never know how strong you are to face someone you love.

In case of love, there are some things that you must pay attention to:

“Dont expect too much, dont give trust too much, dont let your heart totally belongs to anyone, dont harm youself by loving someone, dont ever give up on the one whose you really love.”

love. they said it is complicated, but i do not think as well. love is simple when you have found the right person. even the cheapest food and drink could be the most delicious. but it is not literary meaning. i mean, yeah love is not that complicated. i think the most difficult thing in relationship is how you adapting yourself to your couple.

well, the most happiest moment (for girl) is when you are in a bad mood and want to hit or yell, there is your lover who will be ready to become the object of those.

06.02.’15

sometimes it feels like it is easier to have a relationship with your bestfriend than with a new person. because bestfriend feels more understanding than a new person. it feels more comfortable as well to be with your ex-bestfriend along the day because you are already have a chemistry with him.

sometimes it’s not a bad thing to be in a relationship with you bestfriend. because the one who will never leave you however you are, is a bestfriend.

08.08.14